Hasil penelitian " sosok mbah sapu jagad dan peranan terhadap akidah dan keyakinan masyarakat Desa Sidokepung, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo " dalam penelitian ini menjelaskan cerita legenda sosok mbah sapu jagad dalam keyakinan masyarakat desa sidokepung dan peranan beliau pada masa lampau (penelitian ini di teliti dan di tulis oleh "Mohammad Nuril Aziz, Moch Rafa Ramadhani" Dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)
Penulis menerapkan penelitian ini untuk menggali lebih dalam sosok Mbah Sapu Jagat, termasuk perjalanan hidupnya, kontribusinya dalam masyarakat sidokepung, serta dampak dari kearifan lokal yang ia ajarkan terhadap kehidupan modern. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan memberikan gambaran lebih luas tentang warisan budaya yang diwariskan oleh Mbah Sapu Jagat serta relevansinya dalam membentuk karakter para generasi yang lebih baik kedepannya
SEJARAH DESA SIDOKEPUNG DALAM BENTUK FAKTA :
Dikutip dari situs desasidokepungsidoarjo.blogspot.com dan Kepala Desa (Muhammad Jainal) Sejarah terbentuknya wilayah dan pemerintahan desa yang ada sekarang ini tidak diketahui secara pasti dan tidak pernah ditemukan dokumen sejarah dari pemerintahan desa sebelumnya, namun cerita dari mulut ke mulut desa Sidokepung dahulu terbentuk pada jaman kerajaan Jenggolo atau pada masa penjajahan Kolonial Belanda Diberinya nama Desa Sidokepung berawal dari cerita panjang desa yang asalnya terdiri bahwa dulu sebelum jadi Desa Sidokepung di sini ada dua desa yaitu Desa Sidopurno yang dipimpin oleh Kepala Desa Rustam Sumodiharjo yang masih memeiliki keturunan cucu bernama Supriyadi yang masih hidup. dan Desa Ngepung yang dipimpin Kepala Desa Sugondo yang masih memiliki turunan yang masih hidup bernama Suki.
Namun setelah beberapa tahun menjalankan pemerintahannya kedua Kepala Desa tersebut meninggal dunia, akhirnya warga dan tokoh masyarakat kedua desa mengadakan rembuk desa/musyawarah untuk menggabung desa menjadi satu yaitu Desa Sidokepung. Dan kemungkinan pemimpin desa pertama Sidokepung bernama Purworedjo yang masih memeiliki kerabat dari Rustam Sumodiharjo. Desa Sidokepung terbagi menjadi 4 wilayah dusun (Dusun Sidopurno 1, Dusun Sidopurno 2, Dusun Mlaten dan Dusun Ngepung) Secara historie Sidokepung sudah mengalami kehidupan yang cukup mapan sejak jaman dahulu kala. Sebagian besar kehidupan masyarakat pada saat itu bergerak di dunia pertanian, perkebunan, dan usaha kecil / usaha rumah tangga.
Di Desa Sidokepung mempunyai adat atau tradisi yang selama ini melekat pada masyarakat desa sidokepung dan tidak boleh ditinggalkan yaitu acara Ruwat Desa /Sedekah Bumi yang dilaksanakan setiap bulan Ruwah penanggalan jawa, sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat dan karunia yang diterima dan dirasakannya. Dan sejak terbentuknya Desa yang terdiri dari penggabungan 2 (dua) desa tersebut.
SEDANGKAN SEJARAH DESA SIDOKEPUNG DALAM BENTUK FIKSI :
Menurut Kepala Desa yang baru menjabat (Muhammad Jainal) Alkisah, pada masa dahulu kala ada sesepuh yag dari salah satu prajurit perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda, terdapat sekelompok prajurit gagah berani yang berasal dari Jawa Tengah. Di antara mereka, ada seorang sesepuh yang sangat dihormati oleh prajurit dan masyarakat setempat karena kebijaksanaan serta keberaniannya dalam menghadapi berbagai ancaman. Suatu hari, sebuah peristiwa besar mengguncang desa kecil yang kala itu masih belum memiliki nama tetap. Peristiwa tersebut bermula ketika seekor gajah liar yang diduga berasal dari hutan sekitar tiba-tiba mengamuk dan lari ke arah desa. Hewan raksasa ini menimbulkan kepanikan luar biasa di kalangan penduduk desa. Gajah tersebut merusak ladang, menghancurkan beberapa rumah, dan membuat suasana menjadi mencekam. Sesepuh desa bersama para prajurit yang kala itu bertugas di wilayah tersebut segera turun tangan untuk menenangkan situasi. Mereka tidak bekerja sendirian, melainkan mengajak seluruh masyarakat desa untuk bergotong-royong mencari cara mengatasi ancaman dari gajah yang mengamuk tersebut. Setelah berkumpul dan berdiskusi, mereka menyusun rencana untuk mengurung atau "menggepung" gajah tersebut sehingga tidak lagi menimbulkan bahaya bagi penduduk.
Dengan semangat gotong royong yang tinggi, mereka mulai menjalankan rencana itu. Prajurit yang terlatih menjadi pemimpin dalam upaya pengepungan, sementara masyarakat membantu dengan peralatan yang ada. Proses pengepungan ini memakan waktu cukup lama dan penuh dengan ketegangan, tetapi berkat kerja sama yang solid dan keberanian semua pihak, akhirnya mereka berhasil menjinakkan gajah tersebut tanpa korban jiwa.Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat desa, sehingga mereka memutuskan untuk mengenang peristiwa besar tersebut dengan cara yang istimewa. Atas usul sesepuh dan persetujuan seluruh warga, desa itu kemudian diberi nama "Sidokepung." Nama ini diambil dari kata "sido," yang berarti "berhasil" atau "terwujud," dan "kepung," yang berarti "mengepung." Dalam konteks ini, Sidokepung memiliki arti harfiah sebagai "berhasil mengepung," mengacu pada keberhasilan masyarakat desa dalam mengepung dan mengatasi gajah yang mengamuk.Seiring waktu, nama Sidokepung terus digunakan hingga generasi demi generasi,menjadi simbol persatuan dan kerja sama yang erat di antara penduduk desa. Nama ini bukan hanya sekadar penanda geografis, tetapi juga mengandung nilai sejarah dan pelajaran moral yang terus diingat oleh seluruh warga desa, yakni bahwa dengan persatuan dan kerja sama, segala tantangan dapat diatasi bersama
Didalam hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa setiap desa mempunyai konon cerita tersendiri/sejarah baik itu fakta maupun fiksi dalam keyakinan masyarakat di dalamnya, dan adapun Hasil penelitian dalam cerita legendaris sesosok pahlawan menurut warga setempat dan sudah di teliti dalam berbagai wawancara baik warga setempat maupun terlibat didalamnya:

MENURUT JURU KUNCI MAKAM:
Juru kunci makam (Khoirul Anam) mengisahkan bahwa keberadaan makam Mbah Sapu Jagad sudah ada sejak waktu yang sangat lampau, bahkan jauh sebelum munculnya berbagai agama yang kita kenal saat ini di dunia. Menurut penuturannya, makam tersebut terkait dengan kepercayaan kuno yang telah ada sebelum berkembangnya ajaran-ajaran agama formal. Namun, mengenai nama asli dari sosok yang disebut sebagai Mbah Sapu Jagad, Khoirul Anam sendiri mengaku tidak mengetahui dengan pasti. Informasi mengenai nama tersebut, lanjutnya, hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi melalui cerita yang berkembang di masyarakat.
MENURUT KEPALA DESA SIDOKEPUNG:
Menurut penuturan (Muhammad Jainal) selaku kepala desa, Mbah Sapu Jagad diyakini sebagai tokoh sepuh atau leluhur penting di Desa Sidokepung yang konon berasal dari Jawa Tengah. Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bahwa Mbah Sapu Jagad dahulunya adalah seorang prajurit yang setia kepada Pangeran Diponegoro, yang kemudian menetap di desa tersebut setelah masa perjuangan melawan Belanda. Nama "Mbah Sapu Jagad" sendiri diberikan oleh masyarakat karena kebiasaannya yang suka berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, sehingga ia dikenal luas oleh berbagai lapisan masyarakat di sekitar wilayah itu. Sosoknya dianggap sangat dihormati, tidak hanya karena hubungannya dengan sejarah perjuangan, tetapi juga karena perannya dalam membimbing dan menjaga keharmonisan masyarakat desa pada masanya.
MENURUT WARGA SEKITAR :
Menurut keterangan yang disampaikan (Mbah Suwarni dan Ibu Linda), yang merupakan warga setempat, Mbah Sapu Jagad diyakini sebagai seorang Waliyullah, yaitu sosok yang sangat dekat dengan Allah dan memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran agama di wilayah sekitar Desa Sidokepung. Lebih dari itu, warga desa memandang Mbah Sapu Jagad bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi sebagai figur yang membawa pengaruh besar dalam perkembangan keimanan dan tradisi
spiritual masyarakat setempat. Selain dikenal karena kesalehannya, warga sekitar juga mempercayai bahwa Mbah Sapu Jagad adalah putra asli daerah Sidoarjo, yang menetap dan mengabdikan dirinya di wilayah tersebut sepanjang hidupnya. Keberadaannya hingga kini masih dikenang, dan makamnya menjadi tempat yang dihormati, sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin berziarah atau memohon doa
PERANAN MBAH SAPU JAGAD PADA MASYARAKAT SIDOKEPUNG:
Menurut penuturan beberapa warga setempat, di antaranya Mbah Suwarni dan Ibu Linda, sosok Mbah Sapu Jagad memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran agama di wilayah tersebut. Mereka meyakini bahwa Mbah Sapu Jagad adalah seorang tokoh yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam serta kekuatan spiritual yang tinggi, sehingga kehadirannya sangat berpengaruh dalam membimbing masyarakat pada masa itu. Selain itu, menurut Khoirul Anam, yang bertugas sebagai juru kunci, Mbah Sapu Jagad juga dianggap sebagai sosok yang berjasa besar dalam terbentuknya Desa Sikokepung. Hal ini dikarenakan ia memiliki keberanian untuk membuka lahan atau melakukan pembabatan hutan, yang kemudian menjadi cikal bakal desa tersebut. Pendapat serupa juga disampaikan oleh kepala desa saat ini, Muhammad Jailani, yang mengonfirmasi bahwa peran Mbah Sapu Jagad dalam pembukaan lahan dan perkembangan desa memang sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh juru kunci.
Dibalik peranan tersebut ada juga kepercayaan yang masih melekat saat ini pada masyarakat sidokepung
Kepercayaan yang paling menonjol di tengah masyarakat sekitar makam Mbah Sapu Jagad adalah keyakinan bahwa ketika seseorang memiliki hajat besar, seperti menggelar acara khitan, pernikahan, atau pesta berskala besar, maka wajib mengadakan ritual persembahan tumpeng di makam tersebut agar acara tersebut berjalan lancar tanpa hambatan. Ritual ini dikenal dengan nama "Tumpeng Ruah" dan dianggap sebagai suatu keharusan yang harus dipatuhi oleh seluruh warga sekitar. Masyarakat setempat juga percaya bahwa dengan memanjatkan doa di makam Mbah Sapu Jagad, segala permohonan mereka akan lebih mudah terkabul. Selain itu, ada pula kepercayaan mengenai khasiat "kembang layon" atau bunga yang telah layu dari taburan di makam tersebut, yang diyakini mampu membawa kesembuhan bagi orang yang sedang menderita penyakit.
Proses pengobatan ini dilakukan dengan cara merendam bunga layon selama satu jam, kemudian air rendamannya digunakan untuk menaburkan pada tubuh orang yang sakit. Keyakinan ini tidak hanya dipegang oleh warga sekitar, tetapi juga menarik perhatian banyak orang dari luar kota Sidoarjo yang datang ke makam Mbah Sapu Jagad. Sebagian dari mereka datang karena mendengar cerita dari para leluhur, sementara sebagian lainnya bertujuan menguji ilmu batin atau "ilmu rogosukmo", karena ada kepercayaan bahwa Mbah Sapu Jagad memiliki pusaka gaib yang mampu meningkatkan kekuatan spiritual bagi mereka yang berhasil melewati ujian tersebut. Kepercayaan-kepercayaan inilah yang membuat makam Mbah Sapu Jagad tidak hanya dianggap sebagai tempat suci, tetapi juga sebagai pusat spiritual yang dihormati oleh banyak orang dari berbagai daerah
Disini kita ambil kesimpulan bahwa:
Berdasarkan hasil observasi dan analisis terhadap peranan makam Mbah Sapu Jagad di Desa Sidokepung, dapat disimpulkan bahwa makam ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keyakinan dan tradisi masyarakat setempat. Kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gaib dan khasiat ritual di makam ini membuat sebagian warga terjebak dalam praktik praktik yang mengarah pada penyimpangan akidah. Faktor-faktor seperti ketakutan terhadap musibah, lemahnya iman, keinginan mempertahankan budaya, lingkungan yang mendukung takhayul
Meskipun demikian, keberadaan makam ini juga memberikan dampak positif, terutama dalam hal ekonomi maupun kesehatan. Banyak warga memanfaatkan kunjungan peziarah dengan membuka usaha kecil, sehingga terjadi peningkatan ekonomi meski tidak terlalu signifikan dan kunjungan agar diberikan kesembuhan.
Sekian dari penelitian ini, agar membawa sejarah singkat sosok mbah sapu jagad bagi pembaca baik masyarakat sidokepung dan masyarakat sidoarjo khususnya agar mengerti sejarah mbah sapu jagad maupun sejarah desa sidokepung pada masa lampau
Penerbit : Mohammad Nuril Aziz
Penulis. : Moch Rafa Ramadhani & Moh Nuril Aziz
Surel: nrlaziz72@gmail.com
Tugas dari dosen pengampu
Puspita Handayani, S.Ag., M.Pd.I